Limapuluh Kota, KITAPena.id -
Di tanah yang subur, di Kabupaten Lima Puluh Kota, waktu seperti berjalan dengan cara yang lebih bersahabat. Ia tidak tergesa, tapi pasti—seperti akar yang diam-diam menjalar di dalam tanah, menunggu musim untuk menjadi cerita.
Di sanalah berdiri seorang pemimpin yang akarnya tak jauh dari tanah yang ia pijak—Haji Safni Sikumbang. Lahir dari keluarga petani, ia tidak sekadar memimpin dari balik meja, tapi dari ingatan panjang tentang lumpur, hujan, dan harapan yang ditanam bersama benih.
Kini, daerah itu sedang berbenah. Bukan sekadar membangun, tapi menata arah: menuju satu gagasan besar—Central of Agro. Sebuah cita-cita yang tidak hanya ingin menumbuhkan hasil, tetapi juga martabat.
Langkah itu dimulai dari hal yang sederhana namun sarat makna: penanaman 400 batang alpukat jenis Miki di Jorong Simpang Tigo, Nagari Sariak Laweh, Kecamatan Akabiluru. Di lahan sekitar dua hektare itu, tanah tidak hanya menerima bibit, tetapi juga menerima keyakinan.
Yang menarik, gerakan ini tidak berdiri sendiri. Ia dirajut dari banyak pikiran dan pengalaman. Akademisi, praktisi, hingga mantan birokrat hadir, membawa sudut pandang masing-masing—seolah menyatukan serpihan masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam satu meja yang sama.
Nama-nama seperti Budi Febriandi, Indra Sago, Gusdian Laora, Marzul Veri, hingga David Andrio menjadi bagian dari percakapan panjang tentang masa depan pertanian.
Dari diskusi-diskusi itu, lahir satu kesadaran: bahwa membangun pertanian bukan hanya soal panen, tapi tentang merancang dari hulu hingga hilir—dari benih hingga nilai.
Indra Sago mengingatkan, bahwa kekuatan sejati dimulai dari hulu. Kemandirian benih bukan sekadar teknis, tapi simbol kedaulatan. Jika benih dikuasai, maka masa depan tidak lagi bergantung. Dari sana, budidaya diperbaiki, dan pada akhirnya, hilirisasi menjadi jalan agar hasil tidak berhenti sebagai bahan mentah, tetapi menjelma menjadi nilai yang kembali ke masyarakat.
Sementara itu, Gusdian Laora melihat ini sebagai proses yang tidak instan, tetapi terukur. Ia percaya, dalam tiga tahun ke depan, apa yang hari ini ditanam akan mulai menampakkan bentuknya—bukan hanya di kebun, tapi dalam kehidupan masyarakat.
Barangkali, inilah yang paling penting: pembangunan tidak lagi dimaknai sebagai proyek, tetapi sebagai gerakan bersama. Sebuah kesadaran kolektif bahwa tanah tidak akan subur oleh satu tangan saja.
Di Kabupaten Lima Puluh Kota, benih-benih itu kini telah ditanam. Dan seperti semua hal yang hidup, ia membutuhkan waktu, kesabaran, dan kebersamaan.
(FRP)

0 تعليقات